HADRAH BASAUDAN PDF

Semenjak Islam masuk ke persada Nusantara, berbagai tradisi kebudayaan bernafaskan Islam bermunculan. Dalam tradisi ini, kaum muslimin membacakan sejarah Baginda Nabi SAW dengan diiringi shalawat dan kasidah-kasidah pujian. Maulid sendiri ada banyak macamnya. Di samping maulid, ada pula tradisi tahlilan, istighasah, manakiban, ratiban, burdah serta yang lain lagi. Semua aktivitas itu lahir bukan sebagai akulturasi Islam dengan budaya Jawa, melainkan murni taqarrub pendekatan diri yang dituntunkan ulama kepada umat Islam berdasarkan dalil-dalil hukmiyah yang akurat.

Author:Kat Shakashakar
Country:Kenya
Language:English (Spanish)
Genre:Automotive
Published (Last):18 February 2018
Pages:266
PDF File Size:18.1 Mb
ePub File Size:8.90 Mb
ISBN:723-1-42351-288-3
Downloads:10706
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Gutaxe



Semenjak Islam masuk ke persada Nusantara, berbagai tradisi kebudayaan bernafaskan Islam bermunculan. Dalam tradisi ini, kaum muslimin membacakan sejarah Baginda Nabi SAW dengan diiringi shalawat dan kasidah-kasidah pujian. Maulid sendiri ada banyak macamnya. Di samping maulid, ada pula tradisi tahlilan, istighasah, manakiban, ratiban, burdah serta yang lain lagi. Semua aktivitas itu lahir bukan sebagai akulturasi Islam dengan budaya Jawa, melainkan murni taqarrub pendekatan diri yang dituntunkan ulama kepada umat Islam berdasarkan dalil-dalil hukmiyah yang akurat.

Hadrah Basaudan barangkali merupakan fenomena baru di tengah kaum muslimin Nusantara. Tradisi ini lahir di Hadramaut, Yaman Selatan sekitar dua abad silam.

Seperti halnya maulid atau burdah, Hadrah Basaudan diisi dengan pembacaan kasidah-kasidah yang berintikan sanjungan kepada nabi SAW, doa dan tawasul kepada orang-orang sholeh.

Kalau burdah lazimnya dibaca pada hari atau malam Jumat, maka Hadrah Basaudan dikhususkan pada setiap hari Selasa, boleh pagi atau sore. Pembacaan Hadrah Basaudan di Rubat Tarim dilakukan oleh para santri rubat pada Selasa seusai shalat shubuh. Sementara itu, di kediaman Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, pembacaan Hadrah Basaudan bersuasana lebih semarak. Para tokoh Tarim senantiasa menyempatkan diri menghadiri Hadrah Basaudan di tempat ini pada Selasa sore.

Barangkali hal itu bisa dimaklumi sebab Habib Abdurrahman memberikan andil dalam penyusunan Hadrah Basaudan. Majelis ini dibawa oleh ulama yang rata-rata berdarah Hadrami. Tiap Selasa pagi, mulai pukul Mereka selalu khidmat memanjatkan doa bersama, dibimbing Habib Muhammad Bagir.

Jamaah yang tidak mendapat tempat duduk di ruang majelis taklim yang berukuran 20 x 10 meter itu rela duduk di atas kardus di sepanjang gang yang sempit. Di Pasuruan tak kalah semaraknya. Majelis yang satu ini selalu dihadiri kaum muslimin yang jumlahnya mencapai seribu orang lebih. Uniknya, seusai pembacaan hadrah, Habib Taufik senantiasa menyambung majelis dengan pembacaan kalam salaf.

Kota Lumajang juga tak ketinggalan. Begitu juga di kota Tuban. Untuk sementara ini, Hadrah Basaudan di Surabaya masih diperuntukkan hanya bagi kaum wanita.

Sementara itu, Hadrah Basaudan di kawasan Bukit Biru, Tenggarong, barangkali merupakan majelis Hadrah Basaudan pertama yang dilakukan secara rutin di bumi Kalimantan.

Majelis ini dilaksanakan tiap Selasa sore di Pesantren Al-Munawwarah. Selang beberapa lama, hadrah itu dilengkapi oleh Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdor dan pada akhirnya disempurnakan oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, penulis kitab Bughyatul Mustarsyidin yang tersohor itu.

Ia meninggal pada tahun Hijriyah. Kalau hati kita tidak hadir, maka kita takkan bisa memasukinya. Allah SWT telah mengundang mereka dengan menggerakkan hati mereka untuk menikmati jamuan-Nya. Kita tentunya akan mengundang orang-orang dekat kita secara khusus bila hendak mengadakan jamuan istimewa. Mereka semua telah merasakan keberkahan dari membaca hadrah ini. Alhamdulillah kita sekarang tengah membaca Hadrah Basaudan.

Hadrah yang Insya Allah dihadiri oleh berjuta malaikat. Andai semua orang tahu bahwa hadrah ini diikuti oleh berjuta malaikat, tentu mereka akan berjejal-jejal di tempat ini sekarang.

Dari pertemuan itu, si wali mendapatkan tiga buah hadits. Hadits yang pertama menyebutkan bahwa duduk sejenak di hadapan wali Allah yang masih hidup atau sudah wafat, sekali pun waktunya sesingkat orang memerah susu atau mengupas sebutir telur, lebih utama dari pada beribadah sampai anggota tubuh terpotong-potong.

Hadits yang kedua menerangkan bahwa semenjak aroma kopi terasa di lidah seseorang orang yang minum kopi demi menambah kekuatan ibadah di malam hari, red , maka para malaikat memohonkan ampunan kepada orang itu.

Hadits yang ketiga mengatakan bahwa orang yang membawa tasbih dengan niat untuk digunakan berzikir, red akan selalu mendapatkan catatan pahala selama tasbih itu ada di dalam genggamannya.

Terkadang pembacaan Al-Fatihah ini memakan waktu yang lama, mengingat nama-nama yang disebutkan sangatlah banyak. Sumber Majalah Cahaya Nabawiy.

CATALOGO PARAFUSOS TELLEP PDF

hadrah basaudan

.

LIVRO ADESTRAMENTO INTELIGENTE PDF

Hadrah Basaudan

.

LES APPENDICES DES ARTHROPODES PDF

Hadrah Basaudan

.

Related Articles